*BAGIAN DIRI YANG MERASA AMAN*
_Sebuah kisah nyata yang saya ceritakan dengan hati-hati._
*Oleh: Yusdi Lastutiyanto*
Ada satu klien yang tidak akan pernah saya lupakan. Bukan karena masalahnya yang rumit, pertanyaannya yang aneh, atau emosinya yang terkadang berubah. Justru sebaliknya, ia lembut, aktif, penuh ketahanan. Tapi di balik ketenangannya, ada seorang anak kecil yang terluka, terabaikan, dan sejak lama menunggu seseorang yang mau menoleh.
Ia datang kepada saya untuk hipnoterapi. Riwayatnya cukup panjang, kehilangan figur ayah, hubungan masa lalu yang mengecewakan, kepercayaan diri yang lama runtuh, dan satu hal yang bertahan, rasa tidak aman. Kami memulai beberapa sesi secara _online_ diawal lalu _offline_, dan seperti banyak klien yang membawa luka masa kecil, _inner child_-nya cepat muncul. Bukan karena teknik saya luar biasa. Tetapi karena anak kecil di dalam dirinya sebenarnya sudah lama berteriak.
Pada satu sesi, anak itu muncul dalam bentuk visualisasi yang sangat kuat. Ia berdiri di sebuah ruangan kosong, memeluk dirinya sendiri, menatap ke arah saya. Waktu itu, ia berkata lirih, “Aku cuma ingin aman.”
Saya minta jiwa dewasa yang sehat dalam diri klien menemuinya, dan menyarankan untuk berkata pada bagian kecilnya, “Kamu aman sekarang, saya akan datang melindungi dan menyayangi mu dari dalam, semua yang pernah kita lalui membuat diri kita yang tangguh sekarang ini.”
Dan, di titik itu, saya tahu sesuatu sedang berubah dalam diri klien dewasa di hadapan saya, tapi saya tidak menyadari bahwa kehadiran dan suara saya dikenali oleh _Inner Child_ klien saya itu.
Setelah beberapa sesi, saya mulai melihat bagaimana klien ini merespons bukan hanya terapi, tetapi saya sebagai sosok terapis. Ia terlihat lebih hangat, lebih terbuka, lebih nyaman, tapi ada kenyamanan yang “terlalu terpusat” pada diri saya.
Saya bisa merasakannya.
Ada bagian dari dirinya yang melekat.
Ini bukan cinta romantis.
Bukan ketertarikan seksual.
Bukan pula fantasi yang naif.
Ini adalah “bagian diri yang akhirnya menemukan orang dewasa yang aman.”
Fenomena ini klasik dalam psikoterapi: *transference*. Dalam sejarah Freud dan Breuer, ini bahkan menjadi akar perpecahan profesional. Dan saya, seperti terapis mana pun, tidak kebal dari risiko itu. Saya merasakan bagaimana klien ini mulai bergantung bukan kepada proses, tapi kepada figur saya.
Ada pesan-pesan kecil di luar sesi yang menunjukkan kelekatan emosional halus. Ada nada suara yang berbeda pada interaksi berikutnya. Ada tatapan yang membawa harapan. Dan saya tahu persis harapan itu bukan tentang hidupnya, melainkan tentang kehadiran saya.
Saya sadar: ini bukan hal sepele. Ini pola.
Saya bersyukur berada dalam organisasi profesi yang punya batas tegas:
– tidak ada komunikasi di luar konteks terapi,
– tidak boleh menumbuhkan keintiman personal,
– jika muncul tema percintaan, terapis wajib memutus interaksi terapeutik,
– jika betul ingin menikah, terapis wajib meninggalkan lisensi dan menunggu dua tahun penuh tanpa hubungan terapi apa pun.
Saya tahu aturan itu bukan hanya formalitas. Bukan sekadar etika tertulis. Aturan itu dibuat untuk mencegah kehancuran. Saya tidak mau menjadi bagian dari cerita yang salah.
Maka saya mulai mengembalikan ruang aman itu kepada dirinya sendiri.
Saya perlahan memindahkan pusat kekuatannya dari “saya” ke “dirinya”.
Saya tekankan bahwa rasa aman itu bukan pemberian saya, itu kemampuan yang ia bangun.
Saya perkuat batas ruang terapi.
Saya redam komunikasi di luar sesi.
Saya benahi struktur makna yang membuatnya bergantung.
Saya tidak menghendakinya terluka lagi hanya karena ia menemukan kenyamanan yang salah arah.
Yang menarik, klien ini ketika dewasa terlihat begitu kuat. Tapi _inner child_-nya masih percaya bahwa rasa aman hanya bisa didapat dari orang lain. Jadi ketika ia menemukannya pada saya, tentu ia memeluknya erat-erat. Pada titik itu, yang memegang kontrol bukanlah logika dewasa, tetapi kebutuhan emosional masa kecil yang tidak pernah tuntas.
Dan di sinilah letak tantangan terapi:
Terapis bisa saja hadir sebagai sandaran, tapi tidak boleh menjadi rumah permanen.
Saya tidak sedang membangun ketergantungan. Saya membangun kemandirian.
Perlahan, klien ini memahami bahwa perasaan aman yang ia temukan bukanlah hadiah, tapi cermin. Cermin bahwa dirinya mampu memunculkan pengalaman emosional yang selama ini ia cari.
Ada satu kalimat yang ia ucapkan pada sesi terakhir kami, kalimat yang sampai hari ini masih saya simpan.
“Saya pikir selama ini saya butuh orang yang aman. Tapi ternyata saya butuh belajar menjadi orang dewasa yang bisa mengasuh anak kecil di dalam diri saya sendiri.”
Dan di titik itu, saya tahu pola dependen itu akhirnya terputus.
Saya tidak kehilangan klien.
Ia yang menemukan dirinya kembali.
Dan mungkin itulah bagian paling ajaib dari dunia terapi:
Seorang terapis hanya meminjamkan sedikit rasa aman, agar suatu hari klien bisa membangunnya sendiri.
Semoga bermanfaat dan Terima Kasih
Jakarta, 23 November 2025
*PS*
– Catatan ini adalah kekayaan intelektual pastikan Anda menyertakan sumbernya jika mau dishare ulang atau di modifikasi.
– Kesamaan kisah hanyalah kebetulan semata sebagai bahan edukasi hipnoterapi.
– Dapatkan pelayanan hipnoterapi terbaik di www.titiknolhipnoterapi.com




